Jumat, 15 April 2011

KEUTAMAAN SHALAT

Abdullah bin Umar  berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Islam dibangun atas lima pondasi: Yaitu persaksian bahwa tidak ada sembahan (yang berhak disembah) melainkan Allah, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa ramadhan.”(HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)
Dari Ibnu Umar  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 25 dan Muslim no. 21)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya. Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal Dia lebih mengetahui-, “Periksalah shalat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?” Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.” (HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413, An-Nasai no. 461-463, dan Ibnu Majah no. 1425. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2571)
Penjelasan ringkas:
Shalat merupakan rukun Islam kedua dan merupakan amalan yang paling utama dan paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Ar-Rasul -alaihishshalatu wassalam- menjadikannya sebagai penjaga darah dan harta, sehingga kapan seseorang meninggalkannya maka darah dan hartanya akan terancam. Karena sangat pentingnya shalat ini, sampai-sampai dialah amalan pertama yang hamba akan dihisab dengannya pada hari kiamat. Di dalam hadits Ibnu Mas’ud secara marfu’ disebutkan:

“Amalan pertama yang dengannya seorang hamba dihisab adalah shalat dan sesuatu pertama yang diputuskan di antara para manusia adalah mengenai darah.” (HR. An-Nasai no. 3926 dan selainnya)
Maksudnya, amalan yang berhubungan antara hamba dengan Allah, maka yang pertama kali dihisab darinya adalah shalat. Sementara amalan berhubungan antara makhluk dengan makhluk lainnya, maka yang pertama kali dihisab adalah dalam masalah darah.
Hadits Abu Hurairah di atas juga menunjukkan keutamaan shalat sunnah secara khusus, bahwa dia dijadikan sebagai penyempurna dari kekurangan yang terjadi dalam shalat wajib, baik kekurangan dari sisi pelaksanaan zhahir maupun kekurangan dari sisi batin dan roh shalat tersebut, yaitu kekhusyuan. Wallahu a’lam

Rabu, 13 April 2011

Mengapa Aku Harus Berbakti Pada Orang Tua?

Suatu hari di sebuah madrasah, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya tentang alasan mengapa setiap manusia wajib menghormati dan berbuat baik kepada orangtuanya. Tak lama berselang, salah satu murid dengan sigap mengangkat tangan kemudian menjawab pertanyaan tersebut dengan lantang, “Saya bu, karena mereka telah melahirkan dan membesarkan kita!”.

Ibu gurupun tanpa ragu membenarkan jawaban tersebut lalu mengajak yang lainnya untuk mengulangi jawaban itu secara bersamaan. Dianggap selesai, guru yang mengajar tentang Aqidah dan Akhlaq itu beralih kepada pertanyaan lainnya hingga waktu istirahat pun tiba.

Sepintas memang tidak ada masalah dengan cerita di atas, baik dengan guru maupun murid-muridnya. Hanya saja kalau kita perhatikan dengan seksama, terdapat sedikit persoalan cukup mendasar yang akan berdampak kurang baik bagi proses pembentukan karakter anak-anak generasi muslim.

Melepaskan jawaban hanya pada alasan melahirkan, mengasuh dan membesarkan saja—sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut—akan membentuk persepsi para murid bahwa berbakti kepada orangtua hanya sebatas mengikuti naluri kemanusiaan saja.

Padahal lebih dari itu, sikap baik dan hormat kepada orangtua merupakan bagian dari syariat Islam yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. Itu semua meniscayakan kemurnian niat lillahi ta’ala dari para pelakunya.


Maka ada baiknya seorang pendidik mengarahkan murid-muridnya kepada alasan-alasan syar’i agar pandangan-pandangan metafisis, spiritualitas, dan transendensi dapat dengan sendirinya tertanam dalam jiwa peserta didik.

Artinya, yang menjadi inti persoalan ketika berbicara seputar menghormati dan berbuat baik pada kedua orangtua, ayah dan ibu, tidak cukup hanya dengan pendekatan humanitas. Mustinya berangkat dari konsep seminal (seminal concept) yang secara eksplisit tertera dalam al-Qur’an dan al-Hadits sebagaimana para ulama melakukannya.

Berbakti kepada Orantua dalam Pandangan Islam

Berbuat baik dan berbakti kepada orangtua pada umumnya manusia merupakan prilaku yang terpuji. Bahkan setiap ajaran, kepercayaan, agama dan idiologi manapun memiliki nada yang sama tentang wajibnya menghormati orangtua yang telah berjasa melahirkan, mengasuh, mendidik, dan membesarkan seorang anak hingga dewasa.

Tapi dibalik kesamaan itu ada perbadaan prinsip yang harus kita yakini keabsolutannya. Prinsip tersebut berkaitan dengan konsep mu’ammalah dalam Islam yang salah satunya membahas bagaimana kode etik interaksi seorang anak terhadap ayah dan ibunya. Dalam kontek ajaran Islam, kode etik tersebut terangkum dalam istilah Birrul Walidain yang terjemahan bebasnya adalah berbuat baik kepada orangtua.

Birrul Walidain adalah istilah kunci dalam Islam yang secara konseptual menjadi seperangkat nilai bagi seorang muslim dalam memperlakukan orangtuanya. Kata “al-Birru” secara eksplisit disebutkan dalam hadits Rasulullah yang salahsatunya diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari. Padanan katanya adalah “al-ihsan” yang dapat kita temukan dalam beberapa ayat al-Qur’an, seperti pada surat Al-Baqoroh ayat 83, Al-Isra ayat 23, QS Al-Ahqaaf ayat 15, dan pada Al-An’am ayat 151.

Begitupun dengan “al-Walidain” atau “al-Walidani”, kata ini secara khusus menunjuk dua manusia yang berpasangan, ibu dan ayah, dimana dengan wasilah mereka proses pembentukan (embriologi) yang berupa janin dalam rahim, peniupan ruh, kemudian lahir ke dan tumbuh dewasa di dunia terjadi dengan izin dan kehendak Allah swt. (lihat QS. An-Nahl [16]: 78 dan Az-Zumar [39]: 6)

Islam adalah agama yang syariatnya secara jelas sangat memerhatikan orangtua. Sebagai salah satu bukti, kewajiban berbuat baik serta menghormati kedua orangtua berada setelah diwajibkannya shalat lima waktu kemudian disusul setelahnya perintah berjihad di jalan Allah swt (al-jihad fi sabilillah) dalam pengertiannya yang luas. Rasulullah saw bersabda:

عن بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى مِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Dari bin Mas'ud radliallahu 'anhu berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku katakan: "Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya". Kemudian aku tanyakan lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua". Lalu aku tanyakan lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah". (HR. Al-Bukhari)

Bahkan dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan untuk berbuat ihsan kepada orangtua setelah perintah mentauhidkan-Nya. Firman-Nya:

“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, …”. (QS: Al-Isra [17]:23)

Sebegitu terhormat dan besarnya peran serta jasa-jasa mereka, dalam beberapa ayat al-Qur’an, Allah swt memerintahkan umat-Nya untuk senantiasa menghormati mereka melebihi dari apa yang mereka miliki di dunia. Tidak dapat terbantahkan lagi, bahwa kewajiban ini mengikat siapapun yang secara sadar mengakui kebenaran Islam.

Al-Qur’an menjelaskan bagaimana kedudukan orangtua di hadapan Allah swt. berikut menyebutkan tatacara memperlakukan mereka mulai dari hal yang dianggap sepele. Misalnya, Allah swt melarang kita mengeluh dan gusar kepada orangtua dengan ucapan “ah”. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“… Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra [17]:23)

Logikanya, mengucapkan “ah” saja dilarang apalagi memperlakukan mereka dengan kasar yang dapat membuat hatinya terluka dan tersakiti. Tidak ada kata yang pantas bagi seorang anak yang memperlakukan orangtua dengan kasar atau sekedar mengucapkan “ah” kecuali durhaka (al-‘Uquq).

Rasulullah saw memperingatkan bahwa seorang anak yang mendurhakai orantuanya (‘uququ al-Walidain) adalah pelaku sebesar-besarnya dosa (akbaru al-Kabair) setelah dosa menyektukan Allah sebagaimana beliau sebutkan dalam haditsnya:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَوْ قَوْلُ الزُّورِ

"Maukah aku ceritakan kepada kalian dosa besar yang paling besar?" Yaitu tiga perkara; mensyirikkan Allah, mendurhakai kedua ibu bapak, dan bersaksi palsu atau kata-kata palsu" (HR. Muslim).

Menurut Yazid bin Abdul Qadir Jawas penulis buku Birrul Walidain, yang dimaksud dengan Uququl Walidain dalam hadits tersebut adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orangtuanya baik berupa perkataan maupun perbuatan. (Yazid: 2008)

Inilah bukti bahwa ayat-ayat qur’an dan hadits Rasulullah yang berbicara tentang keharusan seorang anak memuliakan orangtuanya merupakan dalil yang qoth’i (qoth’iyu ad-dilalah) untuk dilaksanakan. Jadi, berbuat baik terhadap orangtua tidak saja mengandung makna dan berorientasi kemanusiaan ansich yang melulu mengedepankan alasan jasa melahirkan dan membesarkan akan tetapi merupakan perintah Allah swt yang secara khusus disebutkan dalam al-Qur’an. Ini berarti, sikap baik seorang anak terhadap kedua orangtuanya tidak saja bersifat insting (naluriah) tapi lebih merupakan aktualisasi amal shalehnya.

Shaleh bermakna “baik” yang mengandung spirit penghambaan kepada Yang Kuasa, Allah swt. Amal shaleh adalah perbuatan baik yang berdasakan pada dimensi iman dimana Allah swt menjadi tujuan akhirnya (ihsan). Adapun anak yang shaleh adalah mereka yang selalu mendo’akan keselamatan dan pengampunan dosa bagi orantuanya baik semasa hidup maupun setelah kepergiannya.

"Tuhan kami, beri ampunlah Aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS Ibrahim [14]:41)

Shalehnya seorang anak adalah buah pendidikan orangtua. Maka Rasulullah menjadikan anak yang shaleh sebagai warisan yang membuat mereka tetap ‘hidup’ sekalipun hayat tak lagi di kandung badan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ الله صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila salah seorang menusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang selalu mendo’akannya”.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu segala perbuatan baik akan menjadi sia-sia (habithat al-a’malu) apabila tidak berlandaskan niat yang tulus dan ikhlas sebagai bentuk loyalitasnya terhadap postulat-postulat ilahiyah. Prinsip seperti inilah yang seharusnya menjadi framework seorang muslim setiap kali melakukan suatu amalan termasuk pada saat berinteraksi dengan ibu dan bapaknya. Wallahu a’lam■

Minggu, 10 April 2011

"sejarah singkat berdirinya Keluaga Pesilatan Ki Ageng Pandan Alas"

Madiun, antara 1968-1972 , di mana saat itu banyak terjadi gejolak yang mempengaruhi keadaan kota madiun saat itu, bersamaan dengan itu banyak perguruan persilatan lahir dan memprakarsai berdirinya perguruan-perguruan baru, saat itu seorang Mantan (pensiunan) Anggota AURI (angkatan Republik Indonesia) Bp Kustari Ady Andaya yang memiliki ilmu olah raga dalam bidang Persilatan pun merasa memiliki peluang besar untuk mendirikan sebuah perguan/persilatan, namun persilatan yang ia dirikan adalah berbeda dengan yang lain…
di awali latihan di halaman Sekitar halaman kodim Madiun, dan baru memiliki beberapa anggota namun saat itu belum memiliki nama untuk persilatan ini. seorang Kustari adi andaya yang terinspirasi dengan seorang tokoh golongan Putih yang Hidup saat zaman kerjaan Demak (pada saat pemerintahan sultan tenggrono) Yaitu Ki Ageng Pandan Alas (lihat Buku Naga sastra Sabuk Inten) yang memiliki sifat ya amat Luhur. Ki Ageng pandan Alas dalam menaklukan /menyadarkan musuh-musuhnya tidak menggunakan kekerasan, melainkan dengan Dandanggulo(dalam bahasa jawa ) yang berarti Petuah-petuah atau nasehat yang dapat menyentuh hati baik dari kawan ataupun lawan. sehingga para musuh-musuhnya sadar.
akhirnya nama Ki ageng Pandan Alas Di Ambil sebagai Nama Keluarga Persilatan Ini. dengan di bantu beberapa sahabatnya Persilatan Pandan Alas melaporkan diri Bergabung dengan Ikatan Pencak silat Indonesia IPSI, setelah di telaah dan di survei Oleh IPSI bahwa gerakan senam dan jurus yang dimiliki persilatan Pandan Alas ini merupakan gerakan seni Beladiri pencak Silat, selanjutnya pada tanggal 10 November 1972 Turunlah surat keputusan dari IPSI yang Menerangkan Bahwa Keluarga Persilatan Ki Ageng Pandan Alas ini di Akui sebagai anggota Oleh IPSI. maka tanggal 10 November 1972 tersebut di Ploklamirkan sebagai hari berdirinya Persilatan Ini.
Persilatan ini bukan lah Pecahan dari perguruaan lain. persilatan ini lahir dari seorang KUSTARI ADY ANDAYA yang mendapatkan semua senam dan jurus dari para Gurunya melalui media MIMPI yang berangsur-angsur ia dapatkan, seperti antara sadar dan tidak sadar ia ada yang menyerang dan dari serangan-serangan itulah tersusun sebuah Jurus-Jurus yang di miliki keluarga persilatan ini, Untuk Jurus Rohani Persilatan ini pun terus mencari yaitu semua yang tertulis di dalam AL Qur’an dan Al hadist, sehingga antara jurus gerak(kanuragan) dan jurus Rohani bila di gabungkan akan menjadi suatu Jurus yang Bernama Jurus Taqwa yaitu suatu Jurus yang Meng Esakan Allah SWT, karna Tidak ada daya serata Upaya yang dapat dicapai Manusia tanpa se ijin Allah