Jumat, 07 Oktober 2011

PITUTUR LUHUR


"dadi manungsa kuwi sing paling utama, aja sok ngendel-endelake samubarang kaluwihane. Apa maneh mamerake kasugihan lan kapinterane. Yen anggone ngongasake dhiri mau mung winates ing lathi tanpa bukti, dhonge pakarti kaya mangkono iku yo bakal ngengon awak-e dadi salah sawijining manungsa kang ora aji.
Luwih prayoga turuten kae pralampitane tanduran pari. Pari kang mentes kuwi yo mesthi bakal tumelung, lha... kang ndhongak mracihnani yen pari kuwi kothong tanpa isi."


Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini,

"jadi manusia itu yg paling utama, janganlah suka menonjol-nonjolkan segala macam kelebihannya, apalagi selalu memamerkan kekayaan dan kepandaiannya. Karena perbuatan seperti itu hanya akan membuat dirinya menjadi bahan ejekan orang lain dan dianggap gak penting.
Lebih baik ikutilah perilaku dari tumbuhan padi. Padi yg makin berisi itu pasti akan semakin merunduk, sedangkan yg masih tegak itu justru menandakan bahwa padi tersebut gabuk/mandul atau kosong tanpa isi pada bulir-bulirnya.
Artinya, kita hidup itu harus selalu mengedepankan kesopanan dan juga santun terhadap orang lain, selalu rendah hati dan jangan malah membangga-banggakan kelebihannya atau menunjukkan kesombongannya. Karena sebenarnya kesombongan itu hanyalah sebuah ambisi tentang bagaimana caranya agar kelebihan kita itu selalu dapat pengakuan dari orang lain."


"engkang nomer kalih, 'sarwa duweo rumangsa nanging ojo rumangsa sarwa duwe'.
Iku yen ditulis genah, katone pancen yo mung diwolak-walik wae, nanging surasane jebul kaya bumi karo langit.
Surasanane ukara kuwi yoiku, dadio manungsa kang tansah nuduhake watak kang kebak welas asih, wicaksana ing saben laku lan rumangsa dosa samangsa gawe kapitunane liyan.
Aja malah nuduhake watak ngedir-edirake, wengis satindak laku polahe. Yen nggayuh pepinginan ora maelu laku dudu. Samubarang pakarti nistha ditrajang wani."


Terjemahan bebasnya seperti ini,

"sedangkan yg kedua, 'miliki selalu perasaan tapi jangan suka merasa selalu memiliki (segala hal)'
Kalimat itu kalau ditulis memang jelas hanya di bolak-balik saja, akan tetapi sebenarnya keduanya memiliki makna yg sangat jauh berbeda ibaratkan langit dan bumi.
Makna kalimat itu kira-kira begini, jadilah manusia yg penuh dengan belas kasih, mengutamakan kebijaksanaan di setiap perilaku dan selalu merasa berdosa jika melakukan perbuatan yg membuat orang lain kecewa atau tersakiti.
Jangan malah memperlihatkan watak yg selalu menonjolkan, sifat bengis dalam segala perbuatannya. Jika ingin mencapai sebuah keinginan selalu mengunakan berbagai macam cara dan semua perbuatan yg tecela pun dilakukan demi untuk mendapatkan keinginannya."

Rabu, 03 Agustus 2011

Ir Soekarno juga seorang pesilat

Bung Karno Belajar Pencak Silat
Sumber Mangle No. 799 / 1981
Ketika kejadian sumpah pemuda 28 Oktober 1928, para tokoh pemuda pejuang bangsa Indonesia yang berada di Bandung banyak yang belajar maenpo (silat). Tidak heran sebab silat selain alah satu kebudayaan bangsa, juga merupakan keterampilan yang besar manfaatnya untuk menjaga diri. Banyak macam silat di daerah sunda namun dari sekian macam-macam silat namun hanya ada satu silat yang dapat mengungkapkan rahasia tenaga yang berasal dari Cianjur yang dipimpin ajengan RH Ibrahim yang hidup antara th 1840 sampai th 1900 dengan nama silat Cikaretan. Salah seorang muridnya yang berbakat dan disayang yaitu Nampon, bahkan setelah RH Ibrahim meninggal, tinggal Nampon yang meneruskan silat Cikaretan.

Mengadu Kekuatan
Nampon mengajarkan ilmunya di daerah Ciburial Padalarang. Semenjak itulah silatnya disebut silat Nampon. Dalam pengajarannya dilakukan secara sembunyi-senbunyi agar supaya tidak diketahui oleh Belanda. Pada waktu itu di Bandung ada pendekar yang bernama Tamim Mahmud yang tinggal di Jl. Kopo. Dia sudah berguru dibeberapa perguruan silat dan sudah lazimnya pada waktu itu para pesilat sering mengadu kekuatan. Tamim Mahmud juga sudah menjajal kemampuannya ke beberapa pendekar silat, tetapi tidak ada yang mampu mengalahkan dia. Kebetulan pada waktu itu dia mendengar kabar di daerah Padalarang ada perguruan silat yang berbeda dari yang lain. Tidak ditunggu-tunggu lagi, dia menemui Nampon di perguruannya. Namun bagaimana adu kekuatan berlangsung tidak ada beritanya, yang didapatkan adalah Tamim Mahmud menyerah kalah kepada Nampon. Demikian luar biasa ampuhnya silat nampon, bagaimana tidak setiap Tamim Mahmud mendekati musuhnya, dia sudah jatuh duluan. Beberapa kali dia jatuh, bangun lagi sambil memasang kuda-kuda, tetapi setiap menerkam atau memukul lawan dia jatuh lagi jatuh ladi. Sampai akhirnya Tamim Mahmud mengakui kekalahannya bahkan selanjutnya berguru pada Nampon.

Pada tahun 1937, Bapak Nampon mengajarkan ilmunya tidak lagi di Padalarang tetapi pindah ke jalan Kopo tempatnya Tamim Mahmud. Pada waktu itu perguruan sudah menggunakan nama Tri Rasa dengan murid-muridnya kebanyakan dari kalangan mahasiswa.

Bung Karno dan Moh. Natsir
Mahasiswa yang belajar silat ditempat itu kebanyakan mahasiswa THS, Siswa Kweek School, AMS MULO, Arabach Scholl, HBS dan OSVIA. Pada waktu itulah Bung Karno dan Moh. Natsir belajar silat. Namun apa maksudnya Bung Karno belajar silat apakah hanya untuk mengisi waktu saja atau sengaja untuk menjaga diri. Namun yang jelas dia belajar silat bahkan mampu sampai mengeluarkan tenaga dalam. Tokoh lainnya yang belajar TRIRASA di antaranya Gusti Husaini ( sekarang dokter spesialis mata), Syarif Jaya (sekarang dokter di jalan Pungkur) dan Dr Muryani, semua muridnya tersebar di beberapa tempat, begitu menurut keterangan Yusuf Teja Sukmana, putera tunggal Pak Tamim Mahmud

Rabu, 13 Juli 2011

PENGENDALIAN EMOSI

Emosi yang tak terkendali hanya akan merugikan diri sendiri. Selain menyebabkan energi Anda terkuras habis, Anda akan dicap tidak kuat mental dan tidak dewasa. Makanya, jika Anda digelayuti berbagai masalah, cobalah jangan hanyut dalam emosi, kendalikan diri. Lebih baik Anda coba tenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam. Dan berpikirlah lebih rileks! Emang nggak mudah sih, tapi kalau pandai mengelola dan mengendalikan emosi, Anda akan merasakan manfaatnya loh, apa aja sih..? Orang-orang yang terlatih mengendalikan emosi umumnya tidak pernah panik dalam menghadapi situasi apapun. Hal ini tentu cukup mempengaruhi kualitas kerja Anda. Orang-orang yang mampu mengendalikan emosi, umumnya bisa menjaga kualitas kerjanya dengan baik pula. Sebaliknya, jika Anda bekerja dalam keadaan emosi yang tidak stabil, membuka peluang besar untuk melakukan kesalahan fatal. Emosi yang terkendali dengan baik, dapat meningkatkan rasa pede Anda. Dengan emosi yang terjaga, Anda lebih mudah melakukan tugas apapun dengan lebih baik. Dengan demikian Anda yakin apapun yang akan Anda hadapi dapat Anda selesaikan semaksimal mungkin. Hal ini secara otomatis akan menambah rasa percaya diri Anda. Dan tentu saja hal ini sangat diperlukan dalam dunia kerja bukan? Perlu Anda ketahui, emosi yang berlebihan akan menguras nyaris seluruh energi Anda, lebih dari kegiatan fisik yang Anda lakukan. Karena emosi umumnya membuat pikiran Anda meledak-ledak dan tanpa disadari membuat gerakan Anda sulit terkendali. Nah emosi yang terkendali lebih menghemat energi Anda. Sehingga Anda tidak mudah lelah dan selalu siap dengan aktivitas sehari-hari. Hal yang sangat menguntungkan, jika Anda pandai mengelola dan mengendalikan emosi, Anda akan lebih sehat baik fisik maupun mental. Coba aja lihat, orang-orang yang sering dilanda emosi banyak dihinggapi penyakit. Selain penyakit mental seperti stres dan depresi, mereka juga dijangkiti penyakit fisik yang cukup berat seperti hipertensi, alergi, maag, migrain, dll. Nah kalau Anda terlatih mengendalikan emosi, stres dan segala macam penyakit ini akan menjauh dari kehidupan Anda. Pikiran dan fisik Anda pun lebih sehat. Lagipula kesehatan sangat penting untuk membangun karir bukan? Dengan segala keuntungan mengendalikan emosi, otomatis akan melancarkan segala aktivitas anda. Baik aktivitas pribadi maupun karir. So, mulai sekarang coba deh belajar mengendalikan emosi..! .

Senin, 04 Juli 2011

?????......kenapa kita harus selalu bersyukur....?????

kenapa kita harus selalu bersyukur


Alloh swt berfirman dalam AlQur’an Surah Ibrahim ayat 7: “ Sesungguhnya Tuhanmu telah mengingatkan kepadamu, jika kamu bersyukur niscaya akan aku tambah nikmatKu, tapi jika kamu kufur sesungguhnya azabku amat pedih....”
Dalam surat lain yaitu surat At-Tin ayat 4 dan 5 Alloh berfirman juga: “ Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling indah...
Kemudain Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)....
Dari ayat di atas sudah jelas bahwa manusia itu adalah makhluk yang paling sempurna. Kesempurnaanya meliputi bentuknya yang paling indah...

Dua mata menghadap kedepan....

yang berguna untuk melihat segala bentuk makhluq di muka bumi ini...dan juga untuk membeda kan mana yang pantas dilihat dan mana pula yang tidak pantas dilihat berdasarkan Al Qur’an dan As-Sunah...dengan mata pula manusia bisa melihat berbagai warna dimuka bumi ini...sehingga tumbuh-tumbuhan di Bumi terlihat indah dan menyenangkan mata...makanya hampir semua orang yang senang dengan bunga bahkan senang memelihara bunga....

Hidung yang lubangnya ke bawah...( bayangkan kalau lubang hidung ke atas...repot kalau hujan )....

dengan hidung pula kita dapat mencium berbagai bau makhluq Alloh...kita bisa membedakan bau minyak wangi dan bau comberan...kita bisa membedakan bau ikan goreng...dengan ikan busuk....dan tentunya membedakan berbagai bau benda satu dengan benda lainnya.
Dengan hidung pula orang bernafas (walaupun bisa memalui mulut)
Misalnya cairan yang tidak berwarna kalau cairan itu berbau kita bisa membedakan jenis cairan yang satu dengan yang lain...dst.


Dua telinga dengan daunnya menghadap ke depan pula..


Dengan dua telinga ini pula kita bisa mendengar dan membedakan segala jenis bunyi di muka bumi ini.
Ada bunyi yang terdengar indah di telinga ,adapula yang tidak indah...
Tapi yang paling penting adalah...bahwa dengan telinga kita dapat mendengar lantunan ayat –ayat Alloh SWT...dengan telinga pula kita bisa mendengar berita...mendengar informasi bahkan mendengar curhat dari orang lain...
Telinga mempunyai kelebihan di bandingkan mata...coba kita rasakan pada waktu kita tidur...kalau ada suara yang berisik pasti kita terbangun...walaupun mata kita masih terpejam....


Ada pula mulut dengan dua bibirnya yang indah (didalamnya ada lidah)....


Dengan mulut kita berbicara....
Dengan mulut pula kita bisa berzikir....
Dengan mulut pula kita bisa mencibir orang lain...
Dengan mulut pula kita bisa menyenangkan orang lain
Dan dengan mulut pula kita bisa menyakiti orang lain...
Dengan mulut juga kita bisa celaka....mulut kamu adalah harimau kamu, kata orang arab. Jagi jagalah mulut kita agar hanya bicara yang baik-baik saja atau lebih baik diam, kata Rosululloh.

Tubuh manusia terdiri dari tiga rongga....

Rongga kepala...

Disana ada otak yang berfungsi untuk berfikir...dan membedakan antara manusia dengan hewan...
Kalau manusia tidak mau menggunakan otaknya maka manusia sama dengan dengan hewan...
“Al insaanu hayawanun natiq” Manusia itu adalah hewan yang berfikir....
Biar otak bisa berfikir dengan baik harus dikasih makan...makanannya adalah ...ilmu pengetahuan...
Makin tinggi ilmu pengetahuan seseorang makin tinggi pula derajatnya disisi Alloh maupun disisi manusia...

Rongga dada....

Didalamnya ada hati...

Walaupun ada beda pendapat antara para ulama mengenai hati ini...ada yang mengatakan hati itu adalah lever....dan ada pula yang mengatakan hati itu jantung...
Tapi di dalam hati inilah terdapatnya akal...
“Hati adalah raja dalam kerajaan tubuh manusia” kata imam Gozali...
Artinya segala gerak tubuh manusia..kelakuan... sikap...akhlak...bicara...tangan ...kaki...telinga....mata...dikendalikan oleh hati...
“Sesungguhnya pada diri manusia ada segumpal darah...apabila segumpal darah itu baik...maka baiklah seluruh tubuhnya....tapi apabila segumpal darah itu buruk..maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa itu adalah hati...” Hadist
Hati itu harus dikasih makan pula...makanannya adalah iman...dan taqwa...

Rongga perut...

Tempat kita menampung makanan yang kita makan...
Tapi perut tidak boleh diisi penuh dengan makanan...
“Perut itu sepertiganya harus diisi makanan...sepertiga airnya... dan sepertiganya udara” sabda Rosululloh
“Makanlah ketika lapar...dan berhentilah makan sebelum kekenyangan” demikian sabda rosululloh lagi.
Perut juga harus diisi dengan makanan yang halal...jangan makanan yang haram atau makanan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal...

Nah itulah keistimewaan manusia sehingga kita harus bersyukur...

Sekarang coba bandingkan diri kita dengan makhluk lain...
Ambil saja salah satu amuba...ternyata ada amuba yang lubang untuk memasukkan makanan juga berfungsi sebagai anus...

Coba bayangkan...
Kalau kita jadi WC...setiap hari kita menerima kotoran dari orang lain...

Coba bayangkan pula kalau kita jadi kuda....tiap hari kita dicampuk dan dipaksa menarik beban...dengan buruhnya hanya rumput saja....

Coba bayangkan....
kalau kita jadi bedug ....tiap hari kita dipukul orang...dst...

Maka bersyukurlah....!

Kamis, 19 Mei 2011

Mencari Ketenangan di Kesunyian Malam


Mencari Ketenangan di Kesunyian Malam

Setiap orang akan berbeda dalam menyikapi berbagai gejolak hidupnya. Menyikapi hidup dan kehidupan terkadang gampang-gampang susah. Gampang untuk bicara, susah untuk dijalankan. Adakalanya kita bisa berpikiran jernih sehingga semuanya nampak indah, dan adakalanya hati kita dalam keadaan  gelap sehingga keluh kesah pun tak dapat dihindari.  Keluh kesah dan ketenangan silih berganti menyelimuti perjalanan hidup kita. Dan semuanya sudah menjadi hukum Allah bahwa kehidupan ini memang selalu berputar dan berpasang-pasangan, yang menjadikannya sebagai ujian, pelajaran, cobaan dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir.
Manusia dengan perbedaan cara pandangnya, selalu menanti kehadiran masa-masa yang tenang sehingga bisa menjadikannya sebagai sebuah kebahagiaan dan ketentraman yang dalam. Masa-masa yang tenang ini akan sangat berdampak pada penjernihan akal dan pikiran manusia.  Tetapi tidak sedikit pula manusia yang dapat merasakan ketenangan hati dengan tidak terpengaruh tempat dan waktu.  Bagi mereka, suasana ramai maupun sepi, malam ataupun siang, semuanya sama karena sudah terpancar sinar ketenangan dan kedamaian dalam hatinya. Sungguh beruntung orang yang memiliki tipe seperti itu.
Lain dengan mereka, lain pula dengan diriku. Aku termasuk orang yang sangat menikmati kesunyian malam. Bagiku, suasana malam menjelang pagi adalah masa-masa yang selalu indah untuk aku nikmati, sungguh suasana yang sangat menenggelamkan segala kegelisahan dan kekacauan pikiranku. Teringat akan masa lalu yang penuh kebahagiaan bersama orangtua dan saudara kandungku, teringat akan masa kecilku saat bermain bersama sahabat-sahabatku, teringat masa penuh keceriaan bersama kawan-kawanku semasa sekolah. Terkadang semuanya membuat hati larut dalam kerinduan yang dalam.

Aku semakin percaya bahwa memang benar Allah memuliakan sepertiga malam terakhir bagi orang-orang yang hendak beribadah kepada-Nya. Saat itulah diri kita merasa sendirian kecuali Sang Khalik yang selalu terjaga dan menemani kita. Saat itulah diri kita merasa bukanlah apa-apa, terlalu kecil diri kita dihadapan Allah tetapi akan menjadi mulia bila kita mampu bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa. Ketenangan dan kedamaian hatiku terasa memuncak manakala aku mendapatkan sepertiga malam yang penuh keberkahan dan ampunan-Nya. Tiada waktu yang paling indah bagiku kecuali di sepertiga malam terakhir itu.
Dan alangkah beruntungnya jika kita bisa memanfaatkan sepertiga malam itu untuk melakukan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan kita, memohon ampunan-Nya serta mensyukuri atas segala karunia-Nya. Akan tetapi segala sesuatu yang berkaitan dengan ibadah, tentunya tidak akan pernah terlepas dari godaan syaitan laknatullah. Mereka menggoda manusia untuk malas bangun malam, mereka lebih menyukai manusia yang tertidur lelap dengan mimpi indahnya, mereka senang bila manusia tertidur pulas dengan selimut hangatnya. Itulah tipu daya syaitan laknatullah agar manusia tidak mengambil keuntungan besar dari sepertiga malamnya.
Segala kondisi adalah tantangan dan setiap masa adalah cobaan, namun di balik itu terdapat hikmah yang besar untuk orang-orang yang berpikir. Berpikir untuk menjawab semua tantangan, berpikir untuk teguh dalam menghadapi cobaan. Namun bagiku kesunyian malam tetaplah sebuah ketenangan yang sesungguhnya, penuh hikmah dan pahala. Lain orang lain pula cara mencari ketenangannya, dan aku selalu berharap mendapatkan ketenangan di kesunyian malam yang berujung kebahagiaan di panasnya siang.

Jumat, 06 Mei 2011

Tradisi Silat Kota Kediri

Tarung Bebas Kediri, Hasrat Bertarung Yang Tak Lekang Oleh waktu
pencak door kediriDisamping dikenal sebagai Kota Tahu, Kediri juga dikenal lewat tarung bebasnya. Persis seperti Ultimate Fighting Championship atau gelaran pertandingan mix martial art yang mempertemukan semua aliran beladiri. Tarung bebas juga diikuti orang-orang yang ingin menjajal ilmu beladiri yang dimilikinya.

Dua orang yang siap bertarung naik ke atas panggung dan melampiaskan hasrat untuk saling mengalahkan, sebelumnya mereka bersalaman. Tak jarang, ceceran darah mewarnai aksi mereka dalam beberapa menit di atas panggung tersebut.
Pertarungan bebas ala Kediri yang sudah tersohor se-antero Jawa Timur, kerap disebut Pencak Dor, pertama kali dipopulerkan oleh KH Maksum Djauhari (Gus Maksum) di era 60-an. Tradisi tersebut berlanjut hingga kini, untuk meramaikan acara hajatan, atau peringatan hari besar tertentu.
Pertarungan ini bisa dikatakan benar-benar sebuah pertarungan yang ”liar”, sepanjang pertandingan digelar, adegan adu jotos, tendangan atau bantingan, baik yang terukur atau tidak, jadi suguhan puluhan ribu penonton.
Karena bebas-bebas saja, alias tidak ada peraturan, kecuali setiap pemain mesti sportif, tidak memukul lawan yang sudah menyerah, atau memukul ke bagian belakang tubuh lawannya, pertandingan jadi amat menarik untuk disimak.
Pertandingan baru akan selesai jika wasit melihat salah satu petarung menyerah atau menurut penilaian wasit, salah satu diantara petarung sudah tak layak meneruskan pertandingan.
Selama fisik masih mendukung dan perserta masih siap, pertarungan akan tetap berjalan berapapun lamanya waktu dibutuhkan, hingga salah satu petarung menyerah atau terkapar.
Biasanya, sebelum bertanding, dua orang petarung akan memulainya dengan bersalaman. Salaman tersebut memiliki maksud diatas panggung mereka adalah lawan, namun setelahnya mereka adalah kawan.
Konon, sesakti apapun seseorang jika sudah berada di atas arena, kesaktiannya akan hilang. Jadi, ketika berada di atas panggung, yang berperan adalah kemampuan kanuragan dan fisik semata.
Untuk menghindari penyalahgunaan, biasanya panitia akan meminta perserta melepas atribut-atribut petarung, seperti kalung, atau perhiasan lain yang berbau jimat, maksudnya agar pertarungan benar-benar fair. Petarung hanya menggunakan celana dan kaos, serta tidak diperkenankan mengenakan jaket, dan setiap pemain hanya diperbolehkan bertarung sekali.
Ring tempat beradu jotos, sudah ‘dibersihkan’ lewat sebuah doa yang dulunya dibacakan oleh Gus Maksum, salah seorang Tokoh Kediri, sekaligus tokoh Ponpes Lirboyo. Setelah Gus Maksum wafat, yang mewarisi doa pemagar arena adu jotos tersebut, kabarnya Gus Bidin, maksudnya agar ilmu apapun luntur di atas ring.
Panggung pertarungan cukup luas, sekitar lima kali lima meter. Kayu panggung yang digunakan pun tanpa matras. Sehingga, jika terjatuh pasti petarung akan disambut oleh kerasnya kayu alas panggung tersebut.
Kepada iwanfals.co.id, Muchammad Nabil Harun, Pengurus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, yang masih secara rutin menggelar acara adu jotos itu, menyatakan jawara yang datang untuk bertarung ada yang berasal dari Ponorogo, Blitar, Tulungagung, Madiun, dan sebagainya.
Bahkan, beberapa perguruan silat kendati tak terang-terangan, juga hadir di event ini. Nabil mengaku masih dapat membedakan mana para petarung yang berasal dari Pagar Nusa, Setia Hati Terate, Taekwondo, Wushu, terutama dari teknik dan gaya bertarungnya di atas arena.
Acara di Lirboyo sendiri kerap digelar di Bulan Sa’ban, menjelang Bulan Puasa. Event ini biasanya digelar dengan jumlah perserta sekitar 500-600 petarung. ”Setelah selesai bertarung, petarung akan memperoleh kupon makan. Lantas secara bersama-sama mereka makan,” tambahnya sembari menyatakan memang hanya makan, sebagai hadiah bagi petarung.
Uniknya, terkadang ada petarung yang punya masalah dengan seseorang, lantas mereka berdua sepakat untuk menyelesaikannya di atas panggung. ”Tetapi memang, jika di atas sudah tanding lantas di bawah geger lagi, Pagar Nusa akan memberesi orang-orang yang seperti itu,” tambahnya.
Mengenai pesertanya menurut Nabil, rata-rata adalah orang yang memang ingin berduel. Disamping itu ada juga yang sekedar cari nama atau unjuk kekuatan. Peserta yang sudah berani naik ke panggung menanggung sendiri keselamatannya. ”Itu memang kesepakatannya, kita hanya mewadahi orang yang ingin adu jotos saja,” tambahnya.
Tarung bebas di Lirboyo digelar setiap tahunnya, demikian pula dengan sepak bola api, panjat pinang golok, debus, bermain tongkat api, yang diadakan untuk meramaikan acara tarung bebas tersebut.
Suksesnya gelaran acara tersebut tanpa publikasi yang memadai, dari mulut ke mulut. Pertandingannya sendiri biasanya dimulai pukul 8 malam, hingga lewat tengah malam. Dihadiri tak kurang 40.000 orang penonton.
Karena tradisi ini sarat dengan tontonan kekerasan, jadi cerita lumrah juga, jika ada peserta yang mengalami sobek pelipis hingga dijahit beberapa jahitan, ‘kepala bocor’, memar, atau bahkan pernah ada yang mengalami retak tulang tangan, karena terjatuh di arena tarung yang dikenal berkayu keras.
Uniknya, belakangan tren penonton kian ramai mengikuti acara ini. Sementara dari pesertanya juga kerap turun peserta langganan mengikuti Pencak Dor, meski mulai banyak juga yang kurang paham beladiri, bermodal nekat, mereka berani turun di arena ini.

Senin, 18 April 2011

KIDUNG KANJENG SUNAN KALI JAGA

 
Kidung Rumeksa Ing Wengi
----------------------------

Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal


Terjemahan dalam bahasa indonesia:

Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas
dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun
tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.
guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku.
Segala bahaya akan lenyap.

Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.

Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku nabi ndin. Ucapanku adalah nabi Musa.

Nafasku nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakup pendenganranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi sulaiman
menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi
rupaku. Ali sebagai kulitku. Abubakar darahku dan Umar dagingku.
Sedangkan Usman sebagai tulangku.

Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti fatimah sebagai
kekuatan badanku. Nanti nabi Ayub ada didalam ususku. Nabi Nuh
didalam jantungku. Nabi Yunus didalam otakku. Mataku ialah Nabi
Muhamad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka
lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.

Jumat, 15 April 2011

KEUTAMAAN SHALAT

Abdullah bin Umar  berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Islam dibangun atas lima pondasi: Yaitu persaksian bahwa tidak ada sembahan (yang berhak disembah) melainkan Allah, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa ramadhan.”(HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)
Dari Ibnu Umar  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 25 dan Muslim no. 21)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya. Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal Dia lebih mengetahui-, “Periksalah shalat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?” Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.” (HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413, An-Nasai no. 461-463, dan Ibnu Majah no. 1425. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2571)
Penjelasan ringkas:
Shalat merupakan rukun Islam kedua dan merupakan amalan yang paling utama dan paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Ar-Rasul -alaihishshalatu wassalam- menjadikannya sebagai penjaga darah dan harta, sehingga kapan seseorang meninggalkannya maka darah dan hartanya akan terancam. Karena sangat pentingnya shalat ini, sampai-sampai dialah amalan pertama yang hamba akan dihisab dengannya pada hari kiamat. Di dalam hadits Ibnu Mas’ud secara marfu’ disebutkan:

“Amalan pertama yang dengannya seorang hamba dihisab adalah shalat dan sesuatu pertama yang diputuskan di antara para manusia adalah mengenai darah.” (HR. An-Nasai no. 3926 dan selainnya)
Maksudnya, amalan yang berhubungan antara hamba dengan Allah, maka yang pertama kali dihisab darinya adalah shalat. Sementara amalan berhubungan antara makhluk dengan makhluk lainnya, maka yang pertama kali dihisab adalah dalam masalah darah.
Hadits Abu Hurairah di atas juga menunjukkan keutamaan shalat sunnah secara khusus, bahwa dia dijadikan sebagai penyempurna dari kekurangan yang terjadi dalam shalat wajib, baik kekurangan dari sisi pelaksanaan zhahir maupun kekurangan dari sisi batin dan roh shalat tersebut, yaitu kekhusyuan. Wallahu a’lam

Rabu, 13 April 2011

Mengapa Aku Harus Berbakti Pada Orang Tua?

Suatu hari di sebuah madrasah, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya tentang alasan mengapa setiap manusia wajib menghormati dan berbuat baik kepada orangtuanya. Tak lama berselang, salah satu murid dengan sigap mengangkat tangan kemudian menjawab pertanyaan tersebut dengan lantang, “Saya bu, karena mereka telah melahirkan dan membesarkan kita!”.

Ibu gurupun tanpa ragu membenarkan jawaban tersebut lalu mengajak yang lainnya untuk mengulangi jawaban itu secara bersamaan. Dianggap selesai, guru yang mengajar tentang Aqidah dan Akhlaq itu beralih kepada pertanyaan lainnya hingga waktu istirahat pun tiba.

Sepintas memang tidak ada masalah dengan cerita di atas, baik dengan guru maupun murid-muridnya. Hanya saja kalau kita perhatikan dengan seksama, terdapat sedikit persoalan cukup mendasar yang akan berdampak kurang baik bagi proses pembentukan karakter anak-anak generasi muslim.

Melepaskan jawaban hanya pada alasan melahirkan, mengasuh dan membesarkan saja—sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut—akan membentuk persepsi para murid bahwa berbakti kepada orangtua hanya sebatas mengikuti naluri kemanusiaan saja.

Padahal lebih dari itu, sikap baik dan hormat kepada orangtua merupakan bagian dari syariat Islam yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. Itu semua meniscayakan kemurnian niat lillahi ta’ala dari para pelakunya.


Maka ada baiknya seorang pendidik mengarahkan murid-muridnya kepada alasan-alasan syar’i agar pandangan-pandangan metafisis, spiritualitas, dan transendensi dapat dengan sendirinya tertanam dalam jiwa peserta didik.

Artinya, yang menjadi inti persoalan ketika berbicara seputar menghormati dan berbuat baik pada kedua orangtua, ayah dan ibu, tidak cukup hanya dengan pendekatan humanitas. Mustinya berangkat dari konsep seminal (seminal concept) yang secara eksplisit tertera dalam al-Qur’an dan al-Hadits sebagaimana para ulama melakukannya.

Berbakti kepada Orantua dalam Pandangan Islam

Berbuat baik dan berbakti kepada orangtua pada umumnya manusia merupakan prilaku yang terpuji. Bahkan setiap ajaran, kepercayaan, agama dan idiologi manapun memiliki nada yang sama tentang wajibnya menghormati orangtua yang telah berjasa melahirkan, mengasuh, mendidik, dan membesarkan seorang anak hingga dewasa.

Tapi dibalik kesamaan itu ada perbadaan prinsip yang harus kita yakini keabsolutannya. Prinsip tersebut berkaitan dengan konsep mu’ammalah dalam Islam yang salah satunya membahas bagaimana kode etik interaksi seorang anak terhadap ayah dan ibunya. Dalam kontek ajaran Islam, kode etik tersebut terangkum dalam istilah Birrul Walidain yang terjemahan bebasnya adalah berbuat baik kepada orangtua.

Birrul Walidain adalah istilah kunci dalam Islam yang secara konseptual menjadi seperangkat nilai bagi seorang muslim dalam memperlakukan orangtuanya. Kata “al-Birru” secara eksplisit disebutkan dalam hadits Rasulullah yang salahsatunya diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari. Padanan katanya adalah “al-ihsan” yang dapat kita temukan dalam beberapa ayat al-Qur’an, seperti pada surat Al-Baqoroh ayat 83, Al-Isra ayat 23, QS Al-Ahqaaf ayat 15, dan pada Al-An’am ayat 151.

Begitupun dengan “al-Walidain” atau “al-Walidani”, kata ini secara khusus menunjuk dua manusia yang berpasangan, ibu dan ayah, dimana dengan wasilah mereka proses pembentukan (embriologi) yang berupa janin dalam rahim, peniupan ruh, kemudian lahir ke dan tumbuh dewasa di dunia terjadi dengan izin dan kehendak Allah swt. (lihat QS. An-Nahl [16]: 78 dan Az-Zumar [39]: 6)

Islam adalah agama yang syariatnya secara jelas sangat memerhatikan orangtua. Sebagai salah satu bukti, kewajiban berbuat baik serta menghormati kedua orangtua berada setelah diwajibkannya shalat lima waktu kemudian disusul setelahnya perintah berjihad di jalan Allah swt (al-jihad fi sabilillah) dalam pengertiannya yang luas. Rasulullah saw bersabda:

عن بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى مِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Dari bin Mas'ud radliallahu 'anhu berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku katakan: "Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Sholat pada waktunya". Kemudian aku tanyakan lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Kemudian berbakti kepada kedua orang tua". Lalu aku tanyakan lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah". (HR. Al-Bukhari)

Bahkan dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan untuk berbuat ihsan kepada orangtua setelah perintah mentauhidkan-Nya. Firman-Nya:

“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, …”. (QS: Al-Isra [17]:23)

Sebegitu terhormat dan besarnya peran serta jasa-jasa mereka, dalam beberapa ayat al-Qur’an, Allah swt memerintahkan umat-Nya untuk senantiasa menghormati mereka melebihi dari apa yang mereka miliki di dunia. Tidak dapat terbantahkan lagi, bahwa kewajiban ini mengikat siapapun yang secara sadar mengakui kebenaran Islam.

Al-Qur’an menjelaskan bagaimana kedudukan orangtua di hadapan Allah swt. berikut menyebutkan tatacara memperlakukan mereka mulai dari hal yang dianggap sepele. Misalnya, Allah swt melarang kita mengeluh dan gusar kepada orangtua dengan ucapan “ah”. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“… Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra [17]:23)

Logikanya, mengucapkan “ah” saja dilarang apalagi memperlakukan mereka dengan kasar yang dapat membuat hatinya terluka dan tersakiti. Tidak ada kata yang pantas bagi seorang anak yang memperlakukan orangtua dengan kasar atau sekedar mengucapkan “ah” kecuali durhaka (al-‘Uquq).

Rasulullah saw memperingatkan bahwa seorang anak yang mendurhakai orantuanya (‘uququ al-Walidain) adalah pelaku sebesar-besarnya dosa (akbaru al-Kabair) setelah dosa menyektukan Allah sebagaimana beliau sebutkan dalam haditsnya:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ أَوْ قَوْلُ الزُّورِ

"Maukah aku ceritakan kepada kalian dosa besar yang paling besar?" Yaitu tiga perkara; mensyirikkan Allah, mendurhakai kedua ibu bapak, dan bersaksi palsu atau kata-kata palsu" (HR. Muslim).

Menurut Yazid bin Abdul Qadir Jawas penulis buku Birrul Walidain, yang dimaksud dengan Uququl Walidain dalam hadits tersebut adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap kedua orangtuanya baik berupa perkataan maupun perbuatan. (Yazid: 2008)

Inilah bukti bahwa ayat-ayat qur’an dan hadits Rasulullah yang berbicara tentang keharusan seorang anak memuliakan orangtuanya merupakan dalil yang qoth’i (qoth’iyu ad-dilalah) untuk dilaksanakan. Jadi, berbuat baik terhadap orangtua tidak saja mengandung makna dan berorientasi kemanusiaan ansich yang melulu mengedepankan alasan jasa melahirkan dan membesarkan akan tetapi merupakan perintah Allah swt yang secara khusus disebutkan dalam al-Qur’an. Ini berarti, sikap baik seorang anak terhadap kedua orangtuanya tidak saja bersifat insting (naluriah) tapi lebih merupakan aktualisasi amal shalehnya.

Shaleh bermakna “baik” yang mengandung spirit penghambaan kepada Yang Kuasa, Allah swt. Amal shaleh adalah perbuatan baik yang berdasakan pada dimensi iman dimana Allah swt menjadi tujuan akhirnya (ihsan). Adapun anak yang shaleh adalah mereka yang selalu mendo’akan keselamatan dan pengampunan dosa bagi orantuanya baik semasa hidup maupun setelah kepergiannya.

"Tuhan kami, beri ampunlah Aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS Ibrahim [14]:41)

Shalehnya seorang anak adalah buah pendidikan orangtua. Maka Rasulullah menjadikan anak yang shaleh sebagai warisan yang membuat mereka tetap ‘hidup’ sekalipun hayat tak lagi di kandung badan.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ الله صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila salah seorang menusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang selalu mendo’akannya”.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu segala perbuatan baik akan menjadi sia-sia (habithat al-a’malu) apabila tidak berlandaskan niat yang tulus dan ikhlas sebagai bentuk loyalitasnya terhadap postulat-postulat ilahiyah. Prinsip seperti inilah yang seharusnya menjadi framework seorang muslim setiap kali melakukan suatu amalan termasuk pada saat berinteraksi dengan ibu dan bapaknya. Wallahu a’lam■

Minggu, 10 April 2011

"sejarah singkat berdirinya Keluaga Pesilatan Ki Ageng Pandan Alas"

Madiun, antara 1968-1972 , di mana saat itu banyak terjadi gejolak yang mempengaruhi keadaan kota madiun saat itu, bersamaan dengan itu banyak perguruan persilatan lahir dan memprakarsai berdirinya perguruan-perguruan baru, saat itu seorang Mantan (pensiunan) Anggota AURI (angkatan Republik Indonesia) Bp Kustari Ady Andaya yang memiliki ilmu olah raga dalam bidang Persilatan pun merasa memiliki peluang besar untuk mendirikan sebuah perguan/persilatan, namun persilatan yang ia dirikan adalah berbeda dengan yang lain…
di awali latihan di halaman Sekitar halaman kodim Madiun, dan baru memiliki beberapa anggota namun saat itu belum memiliki nama untuk persilatan ini. seorang Kustari adi andaya yang terinspirasi dengan seorang tokoh golongan Putih yang Hidup saat zaman kerjaan Demak (pada saat pemerintahan sultan tenggrono) Yaitu Ki Ageng Pandan Alas (lihat Buku Naga sastra Sabuk Inten) yang memiliki sifat ya amat Luhur. Ki Ageng pandan Alas dalam menaklukan /menyadarkan musuh-musuhnya tidak menggunakan kekerasan, melainkan dengan Dandanggulo(dalam bahasa jawa ) yang berarti Petuah-petuah atau nasehat yang dapat menyentuh hati baik dari kawan ataupun lawan. sehingga para musuh-musuhnya sadar.
akhirnya nama Ki ageng Pandan Alas Di Ambil sebagai Nama Keluarga Persilatan Ini. dengan di bantu beberapa sahabatnya Persilatan Pandan Alas melaporkan diri Bergabung dengan Ikatan Pencak silat Indonesia IPSI, setelah di telaah dan di survei Oleh IPSI bahwa gerakan senam dan jurus yang dimiliki persilatan Pandan Alas ini merupakan gerakan seni Beladiri pencak Silat, selanjutnya pada tanggal 10 November 1972 Turunlah surat keputusan dari IPSI yang Menerangkan Bahwa Keluarga Persilatan Ki Ageng Pandan Alas ini di Akui sebagai anggota Oleh IPSI. maka tanggal 10 November 1972 tersebut di Ploklamirkan sebagai hari berdirinya Persilatan Ini.
Persilatan ini bukan lah Pecahan dari perguruaan lain. persilatan ini lahir dari seorang KUSTARI ADY ANDAYA yang mendapatkan semua senam dan jurus dari para Gurunya melalui media MIMPI yang berangsur-angsur ia dapatkan, seperti antara sadar dan tidak sadar ia ada yang menyerang dan dari serangan-serangan itulah tersusun sebuah Jurus-Jurus yang di miliki keluarga persilatan ini, Untuk Jurus Rohani Persilatan ini pun terus mencari yaitu semua yang tertulis di dalam AL Qur’an dan Al hadist, sehingga antara jurus gerak(kanuragan) dan jurus Rohani bila di gabungkan akan menjadi suatu Jurus yang Bernama Jurus Taqwa yaitu suatu Jurus yang Meng Esakan Allah SWT, karna Tidak ada daya serata Upaya yang dapat dicapai Manusia tanpa se ijin Allah